Satu Pekerja Cafe dan Karaoke Dibawah Umur Diamankan Satpol PP

oleh -15 views

TULUNGAGUNG – Satpol PP Tulungagung mengamankan 1 pekerja cafe dan karaoke yang masih dibawah umur, saat memeriksa cafe milik Markini (65) warga Dusun Kedungjalin Desa Junjung Sumbergempol.

Pekerja itu, sebut saja Melati (16) diamankan lantaran adanya aduan dari masyarakat bahwa ada tempat karaoke yang memperkerjakan anak –anak.
Saat diamankan, Melati sedang mendampingi pelanggan menyanyi di room.

Ia berasal dari Desa Wajak Kecamatan Turen Malang.
Gadis bertubuh sintal ini mengaku diajak temanya ‘Tari’ yang sudah lebih dulu bekerja di cafe ini.

Dicafe milik Markini (65) Melati sudah bekerja sejak 1 bulan lalu.
Di cafe ini ada sekitar 4 pemandu lagu, yang kesemuanya berasal dari luar kota.

Dari pengakuan Melati, sebulan dia digaji sebesar 1 juta rupiah. Belum lagi tips yang diterimanya dari pelanggan saat mendampingi karaoke di room.
Room yang ada sebanyak 2. Kondisi room terlihat kumuh dan pengap.
Mirisnya, saat ditanya oleh Satpol PP, Melati mengaku dipaksa untuk melayani nafsu birahi salah satu pelangganya.

Melati dengan gamblang menceritakan waktu dan tempat dirinya dinodai oleh sang perangkat desa (Sebut saja Ganas), perangkat desa di salah satu desa di Kecamatan Sumbergempol.
Dirinya dipaksa berhubungan badan oleh Ganas pada hari Minggu tanggal 11 Agustus 2019 sekitar pukul 1 malam di dalam kamarnya.

“Pernah sekali dipaksa untuk berhubungan badan (Diperkosa) oleh salah satu pelangganya,” kata Kasatpol PP Tulungagung melalui Kasi Informasi dan Publikasi, Artista Nindya Putra, Senin (9/9/2019).

Untuk menguatkan pengakuan Melati, Pihaknya meminta untuk membuat surat pernyataan bermaterai, jika pernah di paksa berhubungan badan oleh Ganas.

Lantaran mengaku diperkosa oleh salah seorang pelangganya, Melati akhirnya diantar oleh Satpol PP ke ULT PSAI (Unit Layanan Terpadu Perlindungan Sosial Anak Integratif) Tulungagung.

Melati diantarkan ke ULT PSAI guna mendampinginya melaporkan ulah bejat salah satu perangkat desa yang telah memaksanya berhubungan badan ke pihak berwajib.

“Karena sudah masuk dalam ranah perlindungan anak, (ULT) PSAI yang paham penangananya,” ujar Putra.

Lantaran ULT PSAI belum mempumnyai shelter (Persinggahan), maka pihaknya berkoordinasi dengan Dinas Sosial Tulungagung yang mempunyai shelter.

Sementara itu pemilik warung kopi dan karaoke, Markini saat disinggung ijin usaha karaokenya, tidak bisa menunjukanya. Dokumen yang dia punya hanyalah sertifikat Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) untuk lagu-lagu yang diputar di cafe miliknya. Itupun dia harus merogoh kocek sebesar 800 ribu rupiah.

“Punyanya hanya ini (sertifikat) bayarnya 800 ribu,” ujar Markini.(gus/har/fif)