Anak Korban Pembunuhan Meminta Kedua Pelaku Di Hukum Mati

oleh -78 views

SURYA RADIO TULUNGAGUNG – Dedi Mawar Pranata anak korban pembunuhan pasangan Didik dan Suprihatin, Warga Dusun Ngingas, Desa/Kecamatan Campurdarat, meminta kedua pelaku untuk dihukum mati. Pasalnya dia menduga pembunuhan kedua orang tuanya sudah direncanakan sebelumnya.

“Saya menduga sudah direncanakan, karena mereka membawa senjata,” ujar Dedi, Senin (9/12/19) saat jalanya rekontruksi pembunuhan kedua orang tuanya.

Dedi juga tidak menduga pelaku merupakan orang di sekitar rumahnya. Jarak antara rumahnya dan pelaku hanya berjarak sekitar 200 meter.

Dedi juga mengaku sudah pernah bertemu dengan pelaku, namun tidak menyangka keduanya tega menghabisi nyawa kedua orang tuanya dengan kejam hanya gara-gara STNK.

“Saya pulangnya Sabtu dan Minggu,” ujar Dedi.

Dedi tahu kedua pelaku pembunuhan setelah pihak kepolisian menangkap kedua pelaku setelah hampir setahun buron.

Kedua pelaku yang merupakan warga sekitar dikenal sebagai pribadi yang tidak pernah membuat ulah di lingkungan sekitar.

Korban sendiri di lingkungan sekitar dikenal sebagai pribadi baik. Kedua korban tidak pernah bermasalah dengan tetangganya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Polisi akhirnya berhasil mengungkap pembunuhan suami istri Didik dan Suprihatin di Dusun Ngingas, Desa/Kecamatan Campurdarat, Tulungagung, Selasa (29/10/19) lalu. Kejadian pembunuhan ini terjadi 8 November 2018 lalu. Dari pemeriksaan yang dilakukan terhadap dua tersangka, pembunuhan itu dilatarbelakangi masalah jasa heregistrasi STNK.

Kedua tersangka adalah pemuda yang sudah dikenal baik oleh korban. Mereka ialah Deni Yonatan Fernando Irawan (25) dan Muhammad Rizal Saputra (22). Keduanya juga berasal dari Dusun Ngingas, Desa/Kecamatan Campurdarat.

Nando -panggilan Deni Yonatan Fernando- sebelumnya meminta tolong kepada Didik yang membuka jasa kepengurusan STNK untuk mengurus STNK-nya. Namun setahun berselang, STNK yang dijanjikan tak kunjung selesai. Padahal, Nando sudah menyerahkan uang sebesar Rp 600.000 kepada Didik untuk mengurus STNK itu.

Setelah melakukan pembunuhan terhadap kedua suami istri itu, Rizal maupun Nando kabur ke Kalimantan untuk menghindari proses hukum. Keduanya diamankan dari perkebunan sawit di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.

Dalam kejadian ini, polisi mengamankan sejumlah barang bukti berupa hiasan marmer untuk membunuh Suprihatin, karpet berlumur darah, besi yang menancap di kepala Didik dan beberapa pakaian.

Sementara itu Kapolres Tulungagung AKBP Eva Guna Pandia sedang berada di lokasi mengatakan berdsarkan hasil rekontruksi hari ini bahwa si pelaku sudah mengakui membunuh dengan beberapa kali .

Ada 68 adegan yang dilakukan reka ulang kali ini.ungkap kapolres.

Berdasarkan pengembangan dari reka ulang kali ini masih dilakukan pendalaman oleh petugas Reskrim apakah nantinya ada bukti baru yang mengarah ke pelaku lain.ungkap kapolres.

Dari kegiatan reka ulang kali ini tim macan agung reskrim polres tulungagung juga dibantu oleh tim kejaksaan untuk mendalami kasus pembunuhan tersebut.

Dalam adegan kali ini pelaku sempat membawa senjata api ,namun dalam BAP sebelumnya tidak membawa senjata kemungkinan mengelabui pelaku dan akhirnya senjata tersebut disimpan.

Dari hasil pengembangan penyelidikan kepolisian pelaku awalnya mendapatkan pasal 338 ,namun kepolisian masih melakukan penyelidikan mendalam dari aksi reka ulang hari ini.(fif)