Pasutri Disabilitas Tukang Tambal Ban Berjuang Ditengah Himpitan Ekonomi

oleh -50 views

 

SURYA RADIO KEDIRI – Dengan keterbatasan fisik yang dimiliki serta usianya yang sudah senja tidak menghalangi Kasiani untuk tetap bekerja banting tulang sebagai tukang tambal ban. Perempuan berusia hampir 65 tahun ini harus tetap bekerja menyambung hidup untuk kebutuhan hidup sehari hari. Apalagi suaminya Sugeng 55 tahun, saat ini hanya bisa terbaring ditempat tidur lantaran penyakit stroke yang dideritanya.

Sugeng sejak 4 tahun terakhir ini sudah tidak bisa membantu isterinya lagi bekerja sebagai tambal ban. Waktunya hanya ia habiskan ditempat tidur. ” Itu suami saya sakit stroke , sudah kurang lebih 4 tahun ini. Jadi sudah nggak bisa membantu lagi bekerja sebagai tukang tambal ban,” Terang Kasiani Selasa 2 Juni 2020 .

Dulu sebelum suaminya sakit, selain tambal ban dirinya berjualan bensin eceran dirumah. Hasil penjualan bensin dengan keuntungan Rp 500 per liter , dirasa cukup membantu untuk menambah pendapatan hasil tambal ban.

Tetapi sejak suaminya tidak bekerja, usaha jualan bensin eceranya sudah lama mandeg.
Bahkan untuk menyambung hidup kebutuhan sehari hari ia terpaksa harus menjual sepeda motor milik suaminya, yang biasa dipergunakan untuk kulak,an bensin. Sepeda motor merk buatan China yang dimodifikasi khusus roda 3 bagi penyandang disabilitas tersebut laku dijual seharga Rp 1,5 juta.
Dirinya masih bisa bersyukur sebab selama suaminya menjalani perawatan di rumah sakit , semua biaya sudah ditanggung oleh Pemerintah melalui program KISS.

” Semua biaya perawatan ditanggung pemerintah mas. Tapi kita juga keluar duit untuk bolak balik ke RS kan naik becak. Juga saya nyuruh orang untuk nunggu, kalau saya sendiri kan nggak bisa, fisik saya kayak gini,” Ungkapnya .

Kasiani dan Sugeng adalah penyandang disabilitas dengan memiliki keterbatasan fisik dibagian kaki. Mereka kemudian menikah sekitar 24 tahun lalu. Selisih usia mereka saat menikah terpaut jauh 10 tahun. Keduanya kemudian dikarunia satu orang anak. Anak laki lakinya tersebut kini tinggal bersama istrinya.
” Anak saya kan kerjanya sebagai Sales, sekarang tinggal bersama isterinya di wilayah Kecamatan Pesantren,” Ujarnya.

Meski puternya sudah berkeluarga dan memiliki mata pencaharian sendiri , Kasiani tidak mau bergantung merepotkan anaknya. Baginya selama dirinya masih kuat dan mampu, dirinya akan terus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya .

” kan dia sudah punya keluarga sendiri mas, biar pekerjaan ini saya lakoni aja ,” Pungkasnya.

Pada saat pandemi seperti sekarang, Kasiani mengaku pendapatannya hasil menambil ban mengalami penurunan. Dulu sebelum merebak covid -19 perhari ia bisa mendapatkan uang antara 70 sampai 80 ribu.

” Kalau sekarang kadang dapat uang tambal ban 20 ribu aja seharia, ya mau gimana lagi , tetap harus disyukuri ,” Kata dia.

Ia tidak memungkiri terkadang ada juga orang yang merasa iba lalu memberinya bantuan. Bahkan ada juga yang mau membantu memperbaiki rumahnya beberapa waktu lalu . Rumah yang ditempati Kasiani di jalan Jaksa Agung Suprapto, hanya satu ruangan. Ruang tamu dan tempat tidurnya menjadi satu . Disitulah mereka berdua selama ini tinggal. Sisa ruang depan rumahnya ia fungsikan untuk menaruh mesin kompresor diperuntukan isi angin dan tambal ban.(jhn)