Satu Minggu Terakhir Di Tulungagung Ditemukan Penambahan17 Kasus Covid 19

oleh -29 views

SURYA RADIO TULUNGAGUNG – Penambahan kasus Covid-19 di Tulungagung mulai menunjukkan peningkatan. Namun, rupanya hal itu masih belum bisa merubah status Kabupaten Tulungagung dari zona kuning menuju zona orange. Kamis (3/9/2020).

Pada Rabu (2/9/2020) kemarin, tercatat ada 4 kasus baru Covid-19 di Tulungagung, dan satu orang dinyatakan sembuh. Sehingga, saat ini sebanyak 292 orang terkonfirmasi positif. 271 orang sembuh, meninggal dunia 3 orang, dan yang dirawat 7 orang, serta 6 orang menjalani isolasi.

Wakil Juri Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Tulungagung Galih Nusantoro mengataakan, dalam 1 minggu terakhir, yakni bulan agustus, diketahui tren Covid-19 di Tulungagung kian meningkat.

“Satu hari bisa dua orang, hari ini empat orang. Tapi dibarengi tren kesembuhan juga, satu hingga dua orang,” ujar Galih Nusantoro, Kamis (3/9/2020).

Galih melanjutkan, dalam rentan 1 minggi ini ditemukan 17 penambahan kasus. Menurutnya, hal itu masih belum bisa mempengaruhi peningkatan status dari zona kuning ke oranye. Pasalnya, peningkatan status ini disebabkan oleh ledakan jumlah penambahan pasien terkonfirmasi.

“Kalau tiap hari rutin ada penambahan 4 kasus, misalkaan hingga 14 hari kedepan, Barulah dimungkinkan status naik,” imbuhnya.

Saat ditanya apa sajakah faktor yang menyebabkan penyebaran Covid-19 di Tulungagung, Galih menjelaskan, penyebaran Covid-19 di Tulungagung diketahui terdapat dua faktor penularan yang mendominasi. Namun, pelaku perjalanan daerah terjangkit (PPDT) masih tercatat sebagai faktor penularan terbanyak. Serta suspek juga mempengaruhi peningkatan terkonfirmasi positif di Tulungagung.

Sementara itu, fenomena unik justru terjadi di Kecamatan Pucanglaban. Pasalnya, sejak awal masa pandemi hingga kini, terpantau belum ada kasus positif dari kecamatan tersebut. Penyebab masih zona hijau di puncanglaban, lantaran tidak ada temuan kasus positif disana. Terlebih mobilitas penduduk disana memanglah terbatas. Pasalnya, mayoritas penduduknya merupakan petani maupun pekebun. Sehingga, dari situ sudah mengerucutkan peluang untuk berinteraksi dengan kehidupan yang lebih majemuk.

“Usai kami lakukan sosialisasi disana, masyarakat juga turut melakukan pembatasan-pembatasan dalam melakukan aktivitasnya,” terang Galih.

Meski disana tercatat sebagai zona hijau, Gugus tugas masih belum memberikan kelonggaran aturan. Pasalnya, jika diberikan kelonggaran, dikhawatirkan justru akan terjadi penularan. Mengingat disebelahnya ada kabupaten lain yang masih rawan.(gus/fif).