Bantu Pengrajin Kodim 0807/ Tulungagung Turut Memasarkan Produk Kerajinan Lokal Asal Tulungagung

oleh -26 views

 

SURYA RADIO TULUNGAGUNG – Pengerajin batu alam atau fosil milik warga Desa Waung Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung, yang selama ini mati suri karena pandemi Covid 19, kini bangkit kembali. Pasalnya, berkat bantuan dari Kodim 0807/Tulungagung, usahanya kembali bangkit.

Pemilik usaha batu alam atau fosil, Nanang Setiawan mengatakan, usahanya mati suri sejak akhir tahun 2019 silam, karena pandemi Covid 19.

Selama pandemi Covid 19, ia tetap sabar, teguh serta berusaha supaya usahanya tetap eksis. Ia pun melakukan persuasif dan meyakinkan pelanggan lamanya. Dan juga ia mendapat bantuan dari Kodim 0807/Tulungagung untuk memasarkan kerajinan batunya.

Salah satu bentuk bantuan itu dari Kodim 0807/ Tulungagung adalah, dirinya mendapkan pembeli atau konsumen baru berasal dari negeri paman Sam (USA).

Komandan Kodim 0807/ Tulungagung Letkol Inf. Mulyo Junaidi melalui Kepala Staf Kodim (Kasdim) Mayor Inf. Muji Wahono mengatakan, bantuan pemasaran ini merupakan bentuk kepedulian TNI terhadap keberlangsungan UMKM di Tulungagung.

“Sebagai bentuk kepedulian, kita bantu pemasaran produk kerajinan batu alam atau fosil ini,” ujar Muji Wahono, Kamis (5/10/2020).

Sementara itu, Nanang menyampaikan, usahanya sudah hampir setahun tidak bisa mengirim kerajian batunya ke luar negeri karena pandemi Covid 19.

Selama ini, pangsa pasar kerajian batu alam atau fosil miliknya berasal dari benua biru, Eropa. Dengan bantuan Kodim, pihaknya mendapat pelanggan baru dari Amerika.

“Ini pelanggan baru dari Amerika, pemasarannya yang dibantu oleh Kodim Tulungagung,” ujar Nanang.

Di masa pandemik ini, pihaknya baru bisa mengekspor kerajian batu alam atau fosil sebanyak 4 kali. Jumlah itu menurun jika dibandingkan sebelum pandemik.

Untuk menutup biaya produksi selama pandemic dan menggaji 16 karyawanya, dirinya harus menjual 2 truk dan motor miliknya.

“Kalau saya berhentikan mereka kan kasihan, jadi saya tetap berusaha agar mereka tetap bekerja meski saya harus jual barang,” terangnya.

Di gudang miliknya ada beberapa barang yang terpaksa ditunda pengirimanya, lantaran pelangganya dari luar negeri masih belum memungkinkan untuk mengambil barang miliknya.

“Ada 2 kotainer yang masih belum bisa dikirim, karena kondisi masih belum memungkinkan,” kata Nanang.

Adapun kerajinan batu alam yang diexport berupa wastafel dari batu kali, fosil, hiasan taman dan kerajinan batu lainya.

Disinggung minat pasar lokal terhadap kerajinan batu alam, Nanang menjelaskan, jika pasar lokal selalu ketinggalan 1 dekade dengan pasar ekspor.

“Contohnya batu fosil, di luar negeri sudah trend sejak 2010 lalu, Indonesia baru-baru saja trend,” terangnya.

Usaha yang dirintis oleh Nanang ini sejak tahun 2008 silam. Dan baru kali ini mendapat hantaman telak akibat covid-19. Nanang berharap, agar pandemi ini segera berakhir, sehingga UMKM bisa kembali normal. (gus/fif).