Minimalisir Kecelakaan Perlintasan ,PT KAI Daop 7 Madiun Gelar Sosialisasi

oleh -7 views

SURYA RADIO TULUNGAGUNG – Banyaknya kasus terjadinya kecelakaan pada perlintasan kereta api (tertemper) membuat PT.KAI Daop 7 Madiun bersama komunitas Railfans Tulungagung gencar melakukan sosialisasi di tiap-tiap perlintasan.

Sosialisasi tersebut ditujukan agar masyarakat semakin waspada saat melewati perlintasan kereta api, utamanya pada perlintasan tanpa palang pintu. Dengan begitu, diharapkan agar masyarakat juga mau mendahulukan kereta api yang hendak melintas.

Humas PT. KAI Daop 7 Madiun, Ixfan Hendriwintoko mengatakan, selain dilakukannya sosialisasi untuk meminimalisir terjadinya temperan pada perlintasan tanpa palang pintu. Dia mengaku juga berupaya dengan melakukan penutupan terhadap perlintasan ilegal. Terhitung sejak januari hingga sekarang, pihaknya telah melakukan penutupan terhadap 39 cikal bakal perlintasan ilegal di wilayah perlintasan Daop 7 Madiun yang dibuat oleh masyarakat.

“Jadi maksutnya cikal bakal perlintasan ilegal itu, kadang di desa-desa masyarakatnya membuat perlintasan sendiri dengan menata bebatuan agar bisa dilewati. Nah lambat laun itu akan diperlebar oleh masyarakat biar juga bisa dilewati kendaraan bermotor. Nah itu semua kita lakukan penutupan,” jelas Ixfan, Minggu (15/11).

Ixfan Melanjutkan, tidak hanya perlintasan ilegal yang berpotensi mengakibatkan kecelakaan pada pintu perlintasan. Namun perlintasan tanpa penjaga dan palang pintu juga sering mengakibatkan terjadinya kecelakaan. Meski pada perlintasan tersebut sudah terpasang alat Early Warning System (EWS) saat kereta hendak melintas. Namun masih saja ditemui pengendara yang tertemper kereta api. Menurutnya, hal itu disebabkan lantatan masyarakat sedikit abai saat melintasi perlintasan tanpa palang pintu, sehingga masyarakat cenderung menerobos perlintasan tersebut meski saat itu kereta api hendak melintas.

“Tetapi kasus-kasus seperti itu tidak cuma terjadi pada perlintasan tanpa palang pintu. Pada perlintasan yang ada pintunya juga pernah dijumpai kasus tertemper kereta. Maka dari itu kita anggap masyarakat saat ini masih abai saat melewati perlintasan kereta api,” lanjutnya.

Meski begitu, menurut Ixfan, sebenarnya kasus temperan yang terjadi pada tahun ini, jika dibandingkan dengan tahun 2019 dengan periode yang sama bisa dikatakan menurun.

Pada tahun 2019, terdapat 42 kasus. Sedangkan pada tahun 2020 terdapat 38 kasus.

Kasus-kasus tersebut menurutnya sering terjadi pada perlintasan tanpa penjaga dan palang pintu.

“Artinya dari angka itu, pada tahun ini sudah ada penurunan sebanyak 9 persen,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Railfans kota Marmer 85, Pras Dwi Wiboso mengaku kegiatan sosialisasi ini dilakukan karena banyaknya kasus kecelakaan pada perlintasan rel kereta api tanpa palang pintu, sehingga pihaknya berinisiatif untuk mengingatkan masyarakat melalui sosialisasi, agar masyarakat mau berhati-hati saat melintasi perlintasan kereta api tanpa palang pintu.

Dengan begitu diharapkan aksinya tersebut bisa meminimalisir terjadinya temperan pada perlintasan kereta api.

“Terus terang kami sebagai pecinta kereta api, kadang tidak tega saat ada masyarakat yang tertabrak kereta akibat menerobos palang pintu. Maka dari itu kami membantu PT.KAI untuk melakukan sosialisasi agar masyarakat semakin waspada saat melintasi perlintasan kereta api.

Kami berharap setelah ini, masyarakat mulai peduli tentang keselamatannya, sehingga saat melewati perlintasan kereta api, mereka lebih mengutamakan kereta terlebih dahulu,” jelas Pras.(gus/fif)