Razia Jam Malam 14 Pengusaha Warung Dikenai Sanksi

oleh -6 views

SURYA RADIO TULUNGAGUNG- Sejak diberlakukannya kembali jam malam di Tulungagung, tercatat belasan pengusaha baik kedai, Warkop ataupun angkringan yang sering dijadikan tempat nongkrong terjaring operasi jam malam.

Beruntung belasan pengusaha tersebut saat ini masih hanya diberikan sanksi berupa teguran lantaran baru pertama kali melanggar.

Wakil Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Tulungagung, Galih Nusantoro mengatakan, sejak diberlakukannya jam malam pada tanggal 21 Desember 2020 lalu hingga sekarang, tercatat sebanyak 14 pengusaha yang sudah dipanggil dan diberikan peringatan karena kedapatan melanggar ketentuan jam malam. Namun menurutnya, saat ini ke 14 pengusaha tersebut masih diberikan sanksi berupa teguran. Hanya saja jika kedapatan melanggar lagi, dipastikan akan diberikan sanksi yang lebih berat. Seperti denda administrasi hingga pencabutan izin usaha.

“Termasuk pencabutan izin, sudah otomatis begitu. Karena kita mengacu pada perbup 57. Disitu aturannya jelas, pelanggaran pertama teguran, baru setelahnya dikenakan denda administrasi bahkan bisa sampai izin usahanya dicabut,” kata Galih Nusantoro, Rabu (6/1).

Saat ditanya terkait kenapa hanya dilakukan pembatasan pada malam hari. Menurut Galih, hal itu didasari lantaran mobilitas primer masyarakat Tulungagung lebih didominasi pada siang hari dibanding malam hari. Sedangkan waktu malam hari, menurutnya lebih didominasi mobilitas sekunder seperti hanya nongkrong ataupun ngopi.

Hal itulah yang perlu dilakukan pembatasan oleh Satgas, sehingga kegiatan mobilitas yang kurang penting agar dikurangi demi mencegah penularan Covid-19.

“Aktivitas seperti perkantoran, perdagangan itukan mayoritasnya pagi hari dibanding malam hari. Sedangkan malam hari lebih banyak kegiatan sekunder. Nah ini yang kita batasi,” ujar Galih.

Kendati demikian, menurut Galih, sebenarnya boleh-boleh saja bagi pengusaha untuk tetap buka meski pada jam malam namun dengan menggunakan sistem take away. Dimana hal itu berarti para pengusaha hanya melayani pembelian dengan dibawa pulang. Bahkan pihaknya juga menganjurkan hal itu.

Mengingat diawal pandemi sempat memperbolehkan pengusaha untuk menerapkan sistem take away. Namun sayangnya, usai dilakukan evaluasi. Rupanya, sistem tersebut tidak dilakukan dengan benar, sehingga masih dijumpai adanya masyarakat yang nongkrong di warung ataupun kedai angkringan dan lain-lain.

“Kita sudah pernah melakukan itu, nyatanya masih tetap dijumpai ada yang nongkrong dan tidak take away. Itu yang tidak kami perbolehkan. Makanya pemberlakuan jam malam sebagai langkah untuk mengantisipasi itu,” pungkasnya.(gus/fif)