Penampakan Harimau Jawa BKSDA RKW Pasang Kamera Pengintai

oleh -14 views

SURYA RADIO TULUNGAGUNG – Balai Konservasi Sumber Daya Alam Resort Konservasi Wilayah (BKSDA RKW) 02 Blitar memasang kamera pengintai di Hutan Perhutani wilayah Desa Nyawangan dan Desa Nglurup Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung, Senin (11/1).

Pasalnya, pihaknya sempat mendapat laporan oleh salah seorang warga atas adanya penampakan harimau jawa.

Seorang warga Desa Nyawangan Kecamatan Sendang Kabupaten Tulungagung, Damin (40) mengaku melihat harimau, yang diduga merupakan harimau jawa jika itu benar.

Menurutnya, harimau tersebut dengan ciri loreng loreng, di Hutan Perhutani wilayah Desa Nyawangan dan Desa Nglurup Kecamatan Sendang.

“Itu saya melihat sudah lama, sekitar akhir bulan November lalu. Karena ya saya takut, saya tidak melapor. Dan baru hari ini ada petugas yang datang,” jelas Damin, Senin (11/1).

Lanjut Damin, wilayah tersebut disebut ‘Alas Watugondok’ dimana lokasi ia melihat harimau sekitar pukul 06.00 WIB.

Menurutnya yang pernah melihat harimau itu bukan hanya dirinya, tapi beberapa warga lainnya.

Bahkan menurut pengakuan warga yang pekerjaannya di kawasan hutan, jika benar di kedalaman hutan memang masih ada harimau.

“Saya lupa kapan tepatnya, yang jelas saat itu saya saat mau mencari rumput, sampai saya putar balik karena ketakutan kalau diterkam. Katanya orang yang suka ke hutan, istilahnya munggah mudun gunung, di atas gunung yang asli memang ada harimaunya,” tutupnya.

Sementara itu, Kepala Resort Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) RKW 02 Blitar, Joko Dwiyono membenarkan adanya laporan warga setempat yang mengaku melihat penampakan harimau jawa.

Padahal menurut Joko, keberadaan harimau jawa diketahui telah punah sejak tahun 1970 lalu, apabila benar dan terbukti secara ilmiah berarti keberadaannya masih ada.

Atas dasar tersebut, untuk membuktikan kebenaran laporan tersebut. Pihaknya dengan segera melakukan pemasangan kamera CCTV di area ditemukannya penampakan harimau jawa.

“Dulu memang sempat ada temuan kasus hewan besar memakan ternak warga di Blitar sekitar tahun 2010, dulu belum ada kamera pengintai jadi kelanjutannya tidak ada pembuktian ilmiah. Ada 3 kamera, di tiga pohon, beberapa titik masih dalam satu wilayah,” jelas Joko Dwiyono, Senin (11/1).

Sedangkan untuk kasus di Desa Nyawangan ini, pihaknya belum berani berspekulai. Menurutnya, hal itu dikarenakan dia juga menerima informasi dari warga adanya beberap ekor harimau dengan jenis berbeda.

Mengingat lokasi titik warga melihat harimau tersebut berada di kawasan hutan yang masih saling berhubungan dengan lereng gunung wilis. Hal itu berarti kondisi hutan memang masih lebat dan alami.

“Untuk melihat datanya, secara langsung harus diambil datanya di lokasi, jadi harus dicek berkala,” pungkasnya.(gus/fif)