Beredar Video Harimau Berkeliaran Di Wilayah Sendang ,Ini Penjelasan BKSDA Jatim

oleh -4 views

SURYA RADIO TULUNGAGUNG –┬áBeberapa hari terakhir, masyarakat Tulungagung utamanya Kecamatan Sendang digegerkan atas beredarnya video rekaman penampakan harimau jawa. Dalam rekaman yang berdurasi selama 29 detik tersebut, menunjukkan adanya harimau jawa yang berjalan di area hutan.

Dimana dalam video tersebut terdapat tulisan lokasi dan himbauan agar masyarakat selalu berhati-hati.

Pengendali Ekosistem Hutan, Seksi Konservasi Wilayah 1 Kediri, BKSDA Jawa Timur, Kiswanto ketika dihubungi lewat telepon mengatakan, secara visual terdapat banyak pohon jati dalam video tersebut. Kiswanto meyakini, bisa saja lokasi sebenarnya dalam video tersebut berada di area konservasi.

Menurutnya, di wilayah sendang, baru 5 hari lalu pihaknya memasang kamera trap dan juga belum diunduh datanya, sehingga pihaknya belum bisa memastikan adanya temuan harimau di Sendang. Namun jelas dalam video tersebut bukan berlokasi di kecamatan Sendang lantaran disana lebih didominasi pohon pinus.

“Kalau di video itukan area disana didominasi pohon jati. Apalagi tanahnya juga datar. Saya yakin itu bukan di Sendang, bisa saja itu di area konservasi atau taman safari,” kata Kiswanto, Senin (18/1).

Lebih lanjut, menurut Kiswanto, di Kecamatan Sendang sendiri secara geografi merupakan wilayah perbukitan. Dengan begitu, secara fegetasinya tidak cocok untuk tanaman pohon jati. Meski begitu, pihaknya mengaku tidak akan menelusuri secara mendalam siapa pengunggah video tersebut dan apa maksut dari beredarnya video tersebut. Menurutnya, pihaknya hanya akan fokus dalam melakukan eksplorasi terkait temuan masyarakat akan adanya harimau jawa utamanya di wilayah Nyawangan dan Nglurup kecamatan Sendang.

“Itu hoax sih, karena itu sudah lama videonya. Cuma ditambahi tulisan Sendang itu aja. Jadi seolah-olah benar terjadi di Sendang. Sementara, kita fokuskan kesitu dulu, coba kita kumpulkan data dari temuan masyarakat atas hewan karnivora besar itu,” imbuhnya.

Kendati demikian, sementara ini total ada tujuh titik kamera trap, dengan rincian tiga di desa Nyawangan, empat sisanya di desa Nglurup.

Menurut Kiswanto, kamera tersebut akan dibiarkan berada disana selama tiga bulan. Namun jika tidak ada hasil, ketujuh kamera tersebut akan dipindah ke area yang diyakini cenderung kerap dihampiri oleh kucing besar tersebut.

“Nanti akan kita evaluasi dengan tim kami apakah di dua desa tersebut cukup 3 bulan atau kita teruskan atau dipindah. Kalau dipindah, karena karnivor besar itu cenderung memanfaatkan area terbuka yang dekat aliran sungai. Natinya tempat-tempat tersebut akan kita pasangi kamera,” pungkasnya.(gus/fif)