Tak Terapkan Pembelajaran Daring, Salah Satu Bimbel Di Tulungagung di Datangi Satpol PP

oleh -16 views

SURYA RADIO TULUNGAGUNG – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Tulungagung bersama Satgas Covid-19 Kabupaten pada, Jumat (22/1) mendatangi tempat bimbel Ganesha Operation (GO).

Pasalnya, disaat semua sekolah sudah menerapkan sistem pembelajaran daring, namun GO terpantau masih melakukan pembelajaran tatap muka. Hal itu akhirnya membuat Satpol PP dan Satgas untuk bergerak menegur pihak menejemen GO agar menghentikan pembelajaran tatap muka.

Kabid Penegakan Perda dan Perbup, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Tulungagung, Artista Nindya Putra mengatakan, kedatangan timnya bersama Satgas di GO merupakan respon dari aduan masyarakat, dikarenakan sekolah formal saja melakukan pembelajaran daring. Namun untuk tempat bimbel Ganesha Operation (GO) masih melakukan pembelajaran tatap muka.

“Karena sesuai SE Bupati yang berlaku, semua pembelajaran dilakukan secara daring, dan seharusnya semua tempat pendidikan di Tulungagung menerapkan aturan sesuai SE tersebut.

Makanya kami kesini untuk memberikan teguran agar segera menghentikan pembelajaran tatap muka. Jadi besok sudah tidak boleh tatap muka” kata Artista Nindya Putra, Jumat (22/1).

Lanjut Artista, sementara ini pihaknya masih tidak memberikan sanksi terhadap pihak manajemen. Namun pada hari senin nanti, pihaknya melakukan pemanggilan terhadap penanggung jawab dari bimbel tersebut. Nantinya pada pertemuan itu, pihaknya membuatkan surat pernyataan agar mentaati semua aturan yang ada di Kabupaten Tulungagung.

Apabila melanggar, dikarenakan bimbel tersebut berizin dan resmi. Maka pihaknya akan melakukan penutupan tempat bimbel dan memberikan denda maksimal.

“Aturan yang sama juga berlaku pada bimbel lainnya, yang terpenting masih berada di wilayah Kabupaten Tulungagung,” imbuhnya.

Artista mengatakan, berdasarkan keterangan penanggung jawab, sejak juni lalu GO sudah mulai melakukan tatap muka bersamaan dengan pemberitahuan sekolah formal yang sudah diperbolehkan tatap muka. Tetapi setelah itu dikarenakan ada pencabutan aturan yang memperbolehkan sekolah formal buka. Namun pihak GO pada saat itu tidak mengikuti aturan tersebut dan tetap melaksanakan pembelajaran tatap muka.

“Kalau berdasarkan keterangan Tim Teknis Satgas Covid-19 Kabupaten Tulungagung. GO pernah mengajukan izin pembelajaran tatap muka, tetapi izin tersebut tidak pernah turun. Namun pihak manajemen tetap melakukan pembelajaran tatap muka,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Cabang Ganesha Operation Tulungagung, Sri Setyowati saat menanggapi hadirnya Tim Satgas Covid-19 yang meminta agar menghentikan pembelajaran tatap muka dan tutup sementara waktu. Pihaknya mengaku akan mengikuti instruksi dari mereka. Namun menurutnya jika nantinya pihak satgas mau menerima argumen dari pihaknya agar tetap memperbolehkan GO untuk tetap melakukan pembelajara tatap muka, maka hal itulah yang akan dicari. Namun kalau tetap tidak diperbolehkan. Maka pihaknya dengan sangat terpaksa akan mengikuti aturan pemerintah dan akan memulai pembelajaran menggunakan sistem daring.

“Kita akan memperjuangkan itu. Coba kita berikan penjelasan dulu ke pihak Satgas, karena yang kami cari adalah pengertian dari Satgas dimana mereka akhirnya mau mengizinkan meskipun dengan syarat. Tetapi kalau tidak ya siapa yang bisa melawan pemerintah?,” ungkap Sri Setyowati.

Sri mengaku, dilakukannya pembelajaran tatap muka di GO lantaran ingin membantu para orang tua siswa yang kesulitan dalam membantu pembelajaran daring anaknya. Menurutnya, tidak semua siswa bisa dengan mudah mengerti dengan materi yang diberikan gurunya melalui sistem daring. Apalagi pada pembelajaran sistem daring, guru hanya memberikan materi menggunakan file pdf, sehingga pihaknya beranggapan jika hanya diberi pembelajaran seperti itu tanpa adanya pendampingan atau penjelasan dari guru. Diyakini para siswa akan sangat kesulitan dalam pembelajaran. Makanya, pihaknya berencana membantu para siswa yang kesulitan dalam belajar daring tersebut melalui pembelajaran tatap muka.

“Kami sudah izin ke orang tua siswa, boleh tidak anaknya kami ajak untuk belajar secara tatap muka. Ini ada surat pernyataannya juga. Kenapa? Karena sebenarnya kemampuan siswa dalam menjalani sistem pembelajaran itu juga berbeda,” jelas Sri.

Kendati demikian, dia mengatakan sebenarnya penerapan protokol kesehatan (prokes) ditempatnya dilakukan dengan sangat ketat. Apalagi pembatasan jumlah pelajar yang hadir juga sangat diperhatikan. Tidak hanya itu, bahkan pelajar disana juga tidak diperbolehkan untuk saling berdekatan dengan temannya. Hal ini menandakan bahwa penerapan prokes disana tidak main-main.

“Kita belajar nonstop tiga jam tanpa istirahat. Setelah itu siswa pulang. Bahkan pengajar kami saja tidak kami perbolehkan untuk memberikan selebaran soal misalkan. Artinya kontak fisik dengan siswa disini sangat minim. Apalagi siswa yang hadir sebenarnya juga terbatas yakni 5 orang dalam satu kelas,” pungkasnya.(gus/fif)